Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Buku Timor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Timor. Tampilkan semua postingan
Sapi Bali di Pulau Timor

Sapi Bali di Pulau Timor

Judul

:

Sapi Bali di Pulau Timor

Penulis

:

Stefanus Sio

Penerbit

:

PT. Pusat Literasi Dunia

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

94

ISBN

:

978-623-09-3891-7

Harga

:

Rp. 95.000

Status

:

Kosong

 

Sapi bali merupakan salah satu sumber daya genetik asli Indonesia, perlu dilestarikan dan dibudidayakan secara optimal karena pada plasma nutfah Indonesia ini mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, pendapatan asli daerah (PAD) dan penyediaan daging di tanah air.

Selain itu juga sapi bali memiliki keunggulan- keunggulan dibanding dengan ternak lokal lainnya yang dikembangkan di tanah air. Keunggulan-keunggulan sapi bali yang dimaksud antara lain: mampu beradaptasi baik terhadap lingkungan (pakan), memiliki prosentase karkas tinggi (56,9%), angka fertilitas tinggi yaitu 83%, bobot lahir anak lebih tinggi.


Kayu Ular : Etnomedisin, Fitokimia, Aktivitas dan Toksisitas Obat Tradisional Antimalaria Andalan Orang Timor

Kayu Ular : Etnomedisin, Fitokimia, Aktivitas dan Toksisitas Obat Tradisional Antimalaria Andalan Orang Timor

Judul

:

Kayu Ular : Etnomedisin, Fitokimia, Aktivitas dan Toksisitas Obat Tradisional Antimalaria Andalan Orang Timor

Penulis

:

Dr. Maximus M. Taek, S.Pd., M.Si.

Penerbit

:

Rena Cipta Mandiri

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

122

ISBN

:

978-623-5431-90-1

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong

 

Masyarakat tradisional Indonesia sejak dahulu telah mengenal dan memanfaatkan beberapa tumbuhan sebagai bahan obat antimalaria, antara lain sambiloto (Andrographis paniculata), nimba (Azadirachta indica), johar (Cassia siamea), pule (Alstonia scholaris), melati gambir (Jasminum quenquenerium), mahoni (Swietenia macrophylla), meniran (Phylanthus niruri), cempedak (Artocarpus champeden), dan lain-lain. Di Pulau Timor, masyarakat mengenal salah satu tumbuhan obat antimalaria yakni kayu ular (Strychnos ligustrina). Pamor dan reputasi tumbuhan ini sebagai obat antimalaria diketahui secara luas oleh masyarakat di berbagai daerah di Timor.

Dalam rangka untuk mengembangkan tumbuhan kayu ular sebagai obat antimalaria yang khasiat serta keamanannya dapat dipertanggungjawabkan, maka perlu dilakukan beberapa penelitian ilmiah untuk menguji kembali apakah ekstrak kayu ular memiliki potensi atau aktivitas yang dapat diandalkan untuk menghambat atau membunuh parasit malaria sebagaimana diyakini masyarakat pemakainya. Selain itu juga perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah ekstrak kayu ular aman (tidak toksik) untuk dikonsumsi, juga pemeriksaan fitokimia untuk mengungkap senyawa-senyawa apa saja yang terkandung di dalam ekstrak tumbuhan kayu ular tersebut. Pengetahuan mengenai potensi dan keamanan ekstrak kayu ular ini tentunya akan menjadi sumbangan berharga bagi upaya-upaya pencarian obat antimalaria baru menggantikan obat-obat malaria yang saat ini sudah tidak mempan lagi terhadap parasit malaria (Plasmodium).

Buku ini merupakan kompilasi dari serangkaian hasil penelitian yang penulis lakukan atas tumbuhan kayu ular (Strychnos ligustrina) ini. Penelitian yang telah penulis lakukan atas tumbuhan tersebut mencakup aspek pemanfaatan tumbuhan ini sebagai obat tradisional antimalaria oleh masyarakat asli di Pulau Timor (etnomedisin), pemeriksaan kandungan kimia, pengujian aktivitas antimalaria secara in vivo dan in vitro, dan pengujian toksisitas ekstrak tumbuhan kayu ular ini. 



Bahasa Dawan: Permarkahan Morfologis, Pola Urut dan Tipe

Bahasa Dawan: Permarkahan Morfologis, Pola Urut dan Tipe

Judul

:

Bahasa Dawan: Permarkahan Morfologis, Pola Urut dan Tipe

Penulis

:

Naniana Nimrod Benu

Editor

:

Risman Iye & Lery Prasetyo

Penerbit

:

Rena Cipta Mandiri

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

163

ISBN

:

978-623-998-477-9

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong

 

Bahasa Dawan memiliki sepuluh dialek dengan wilayah pakai yang luas, yaitu meliputi sebagian besar daratan Timor barat. Akan tetapi, dalam buku ini  memfokuskan diri pada dialek Amanuban, yaitu salah satu dialek di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).  Pertimbangannya adalah karena secara geografis, wilayah ini berada di antara dua kabupaten lain dari penutur BD. Dengan demikian, pengaruh bahasa lain, seperti bahasa Tetun dan Melayu Kupang sangat sedikit.

Pemilihan dialek Amanuban karena dialek ini memiliki wilayah persebaran penutur paling luas, yaitu meliputi kecamatan Amanuban Barat, Amanuban Timur, Amanuban Tengah, Amanuban Selatan, Kolbano, dan Kota Soe. Meskipun begitu, tidak disangkal bahwa terdapat pengaruh dialek lain mengingat berbagai bidang perkembangan sehingga memudahkan interaksi antarpenutur dari berbagai dialek. Misalnya, seorang pendeta, guru, atau kepala desa yang bukan orang setempat, tetapi perbedaan-perbedaan ini tidak berpengaruh signifikan dalam komunikasi. 



Sistem Kesenian Masyarakat Etnis Dawan di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur

Sistem Kesenian Masyarakat Etnis Dawan di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Sistem Kesenian Masyarakat Etnis Dawan di Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

I Putu Kusuma Yudha, I Wayan Rupa & Anak Agung Gde Rai Griya

Penerbit

:

Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, Direktorat jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tahun Cetak

:

2017

Halaman

:

122

ISBN

:

978-602-7961-23-4

Sumber

:

https://repositori.kemdikbud.go.id

Download

:

Di Sini


Setiap etnis yang ada di Indonesia memiliki sistem kesenian yang berbeda, beda tergantung pada kebutuhannnya dalam mengekspresikan budayanya. Salah satunya adalah etnis Dawan. Etnis Dawan merupakan salah satu etnis tertua dan terbesar yang ada di Pulau Timor, Nusa Tenggara. Etnis Dawan ini menempati seluruh wilayah Timor Barat, tersebar di 3 kabupaten yaitu kabupaten Kupang, kabupaten Timor Tengah Selatan dan kabupaten Timor Tengah Utara provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Etnis Dawan sering disebut juga sebagai orang Atoni Pah Meto. Orang Atoni ini kebanyakan hidup di daerah pedalaman. Mereka hidup sebagai petani. Selain itu kehidupan mereka sangat tergantung dari alam. Menurut mereka alam memberikan kesejahteraan bagi manusia, tapi bisa juga mendatangkan malapetaka.

Masyarakat etnis Dawan, memiliki sistem kesenian yang kompleks yang menemani kehidupan sehari harinya, meliputi seni musik, seni tari, seni suara, kerajinan-kerajinan tangan, ukiran dan tato. Sistem kesenian tersebut tentunya memiliki fungsi yang mendukung kehidupan masyarakat etnis Dawan. Ditengah kehidupan modem yang semakin mengepung masyarakat daratan Timor secara keseluruhan termasuk juga etnis Dawan, sistem kesenian harus mampu menjaga eksistensinya, dan bahkan mampu berkembang ditengah tuntutan masyarakat yang semakin beragam. Demikian juga fungsi dan nilai yang terkadung dalam kesenian etnis Dawan harus diartikan dan diterjemahkan dengan penafsiran-penafsiran yang bersifat positif sehingga generasi penerus dapat memetik pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya. 



Mendobrak Penindasan Atoni Meto

Mendobrak Penindasan Atoni Meto

Judul

:

Mendobrak Penindasan Atoni Meto

Penulis

:

Krisdyatmiko

Penerbit

:

IRE Yogyakarta

Tahun Cetak

:

2005

Halaman

:

150

ISBN

:

979-98182-1-4

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong

 

Atoni Meto / Atoin Meto / Atoni Pah Meto merupakan salah satu etnis di Indonesia yang menempati wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagaimana komunitas adat lainnya di nusantara. Atoni Meto secara historis telah memiliki kedaulatannya sendiri. Namun seiring perjalanannya, mereka telah mengalami proses marginalisasi sejak jaman kerajaan sampai dengan era reformasi saat ini.

Suatu kondisi yang kontadiktif jika negara ini tengah mencanangkan diri memasuki era reformasi yang ditandai dengan pengelolaan negara secara demokratis, namun pada kenyataannya kebijakan pemerintah tetap saja mengabaikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat adat. Selain negara, aktor di balik penindasan masyarakat adat adalah kaum kapitalis. Kolaborasi megara dengan dengan kaum kapitalis menjadi ratapan kesedihan atas ketidakberdayaan masyarakat adat.

Buku ini mengajak pembaca menelusuri jejak-jejak perjalanan sejarah marginalisasi Atoni Meto serta mengungkap perjuangan apa saja yang telah mereka lakukan dalam menegakkan keadilan bagi kesejahteraan mereka. Banyak yang telah mereka lakukan, namun masih banyak pula PR yang harus mereka kerjakan karena selalu saja muncul bentuk-bentuk baru dari penindasan terhadap masyarakat adat.

Banyak pembelajaran yang dapat diperoleh dari bumi Meto, salah satunya adalah kegigihan mereka dalam melawan penindasan, sebagaimana motto Atoni Meto “meup on ate, he muah on usif” (kerjalah seperti hamba agar makan seperti raja).  



Orang-Orang Oetimu

Orang-Orang Oetimu

Judul

:

Orang-Orang Oetimu

Penulis

:

Felix K. Nesi

Penerbit

:

Marjin Kiri

Tahun Cetak

:

2020 (cet.3)

Halaman

:

220

ISBN

:

978-979-1260-89-3

Harga

:

Rp.83.000

Status

:

Ada


Oetimu: suatu wilayah kecil di pelosok Nusa Tenggara Timur. Masa itu adalah paruh kedua 1990an, dan kejadian-kejadian di wilayah Indonesia selebihnya mau tak mau berdampak kepada kehidupan sosial orang-orang di kampung yang terpencil itu. Kolonialisme Indonesia di Timor Timur kian disorot dunia internasional, sementara warisan kekerasan antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin ikut menyebar ke wilayah sekitarnya, demonstrasi menentang Soeharto kian marak di kalangan mahasiswa, dan Brazil berhadap-hadapan dengan  Prancis di final Piala Dunia.

Novel mengasyikkan yang menggambarkan masyarakat Timor Barat dengan segala kepelikannya, di mana gereja, negara, dan tentara berperan besar dalam kehidupan sosial. O ya, juga sopi dan seks.

“Sebuah contoh fiksi etnografis yang digarap dengan baik”
— Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2018



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia