Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Buku Arsitektur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Arsitektur. Tampilkan semua postingan
We Seek Our Roots: Oral Tradition in Biboki, West Timor

We Seek Our Roots: Oral Tradition in Biboki, West Timor

Judul

:

We Seek Our Roots: Oral Tradition in Biboki, West Timor

Penulis

:

Gregor Neonbasu, SVD

Penerbit

:

Academic Press Fribourg Switzerland

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2011

Halaman

:

385

ISBN

:

978-3-7278-1700-7

Harga

:

Rp.-

Status

:

Kosong

 

This book describes the pattern of the daily life of the people of Biboki in West Timor -- Eastern Indonesia -- in terms of their efforts to affirm the "roots" of their daily lives. The core claim of this study is that oral traditions form the basis for which local people both trace their origins and at the same time endeavour to conceptualize their relationships with their fellow human beings and with the cosmos. It means that oral traditions are a fundamental tool for people in establishing their roots of life within a community and in assisting their efforts to establish authority within society. The chapters of the book present a range of genres of oral traditions, in conjunction with detailed exegesis and linguistic analysis in order to demonstrate the fundamental rote of these oral traditions within the life of the people.

According to Bibokinese, the root of life is considered to be the ancestors and the Supreme Being represented in the heirlooms kept in traditional houses. Life in society should be based on performing rituals at the traditional house as a vital way to create and preserve a flourishing community. At each performance at the traditional house -- and also at other traditional sites where people hold rituals -- oral traditions become a key factor in maintaining links with the past.

Gregor Neonbasu SVD was born in Timor, Indonesia in 1960. He completed his Phd in anthropology at The Australian National University of Canberra in 2005. He is the Chairman of St. Arnold Educational, which runs the Catholic University of Widya Mandira Kupang of West Timor, Director of Cultural Commission of the Research Region Council of East Nusa Tenggara Province. He teaches anthropology and sociol-University of Artha Wacana Kupang and the Pastoral Institute of the Archdiocese of Kupang. 



Media Miniatur Rumah Adat Ende Berbasis Kearifan Lokal Motif NTT

Media Miniatur Rumah Adat Ende Berbasis Kearifan Lokal Motif NTT

Judul

:

Media Miniatur Rumah Adat Ende Berbasis Kearifan Lokal Motif NTT (Meningkatkan Hasil Belajar Pada Pembelajaran Matematika Pada Tingkat Sekolah Dasar)

Penyusun

:

Maria Veronika Mentari Lami, Ummu Fajariyah Akbari, S.Pd.,M.Pd., & Imanuel Natalis Nara Layar, S.Pd

Penerbit

:

Adab

Tahun Cetak

:

Halaman

:

80

ISBN

:

978-623-497-916-9

Harga

:

Rp. 85.000

Status

:

Ada

 

Media Pembelajaran merupakan salah satu hal yang mempengaruhi efektifitas proses pembelajaran pada hasil belajar peserta didik yang berdampak positif. Media pembelajaran miniatur rumah adat Ende berbasis kearifan lokal motif NTT pada pembelajaran matematika materi bangun datar.

Pada buku ini menggunakan pengembangan model 4D (four D model), yaitu tahap pendefenisian (Defina), perancangan (Design), pengembangan ( Develop), dan penyebaran ( Disseminate). 



Ruang Hidup Orang Manggarai: Gendang One, Lingko Pe’ang

Ruang Hidup Orang Manggarai: Gendang One, Lingko Pe’ang

Judul

:

Ruang Hidup Orang Manggarai: Gendang One, Lingko Pe’ang

Penulis

:

Fransiska Widyawati dkk.

Penerbit

:

Penerbit Unika Santu Paulus Ruteng

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

72

ISBN

:

-

Sumber

:

https://lppm.unikastpaulus.ac.id/

Download

:

Di Sini

 

Gendang one, lingko pe’ang adalah salah satu filosofi penting kehidupan orang Manggarai di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Manggarai di sini bukan menunjuk pada nama sebuah kabupaten, melainkan Manggarai dalam arti yang lebih luas, mencakup wilayah tiga kabupaten, Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur.

Secara literal, ungkapan gendang One, lingko pe’ang berarti 'rumah di dalam, kebun di luar'. Ungkapan ni adalah bagian filosofi dan kearifan lokal orang Manggarai. Ia menggambarkan ruang hidup yang mewakili keluasan ekologi kehidupan manusia. Rumah lebih luas dari sekadar sebagai bangunan fisik; kebun lebih dari hanya konsep tanah tempat manusia berkebun. Bagi orang Manggarai, rumah dan tanah memiliki makna sosial, religius, kultural dan politis (Lon, 2021; Lon dan Widyawati, 2020).

Selain itu, rumah dan kebun adalah kata yang menunjukkan suatu pasangan yang komplementer, saling melengkapi. Keduanya ditegaskan oleh kata “di dalam” dan “di luar”. Sifat komplementer menandakan karakter hidup orang Manggarai yang mempersatukan pelbagai aspek. Dalam budaya orang Manggarai, ruang hidup ini biasanya mencakup menjadi kampung (beo bate elor /natas bate labar), rumah adat (mbaru bate kaeng, mbaru gendang), altar persembahan/sesajian (compang bate takung), kebun (uma bate duat/lingko), dan sumber air (wae bate teku). 



Di Atas Bumi Seperti di Dalam Langit: Mempertimbangkan Astronomi Budaya Reba Ngada

Di Atas Bumi Seperti di Dalam Langit: Mempertimbangkan Astronomi Budaya Reba Ngada

Judul

:

Di Atas Bumi Seperti di Dalam Langit: Mempertimbangkan Astronomi Budaya Reba Ngada

Penulis

:

Josef San Dou

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

240

ISBN

:

978-623-6724-30-9

Harga

:

Rp. 125.000

Status

:

Ada

 

Ritus perayaan Reba masyarakat Ngada tidak berlangsung dalam suatu kevakuman, tetapi dalam suatu kerangka waktu, ruang, kosmos dan arsitektur tertentu. Buku ini mencoba melihat konteks waktu, ruang, kosmos dan arsitektur tersebut – khususnya dari perspektif astronomi budaya Ngada – bukan saja menyangkut kaitan antara pelaksanaan ritus perayaan Reba dengan perubahan bentuk dan letak benda-benda langit, tetapi juga proses pembumian kosmos dan benda-benda langit tersebut ke dalam elemen-elemen budaya Ngada yang pada gilirannya menjadi ruang dan waktu perayaan Reba tersebut seperti arsitektur rumah adat, kampung adat, pakaian adat, ritus-ritus dan mitos-mitos mereka.

Berupaya menggali kearifan dan kebijaksanaan lokal untuk mengkontribusi terhadap gerakan global pelestarian alam, buku ini mencoba melihat bagaimana pengamatan yang cermat atas perubahan bentuk dan letak benda-benda langit menjadi referensi bagi penyelenggaraan dan perayaan kehidupan bersama, termasuk perayaan Reba. Secara khusus buku ini mengedepankan beberapa kajian berikut: Pertama, perayaan Reba sangat erat berkaitan dengan fase-fase bulan, khususnya fase-fase bulan dalam kurun waktu yang disebut Repa yakni dari bulan baru (wula mata/wula mese/wula seli) di mana bulan tidak kelihatan selama dua atau tiga malam, sampai ke bulan purnama (wula gili, wula gili moli, wula pepe li’e, wula dara gesa); kedua, seperti dikemukakan oleh Paul Arndt, SVD, perayaan Reba Ngada berkaitan dengan kurun waktu “ketika matahari berada dalam posisi paling selatan dalam bulan Desember sampai saat matahari berada pada posisi paling tinggi dalam bulan Maret”; dan ketiga, perayaan Reba Ngada berkaitan dengan kembalinya atau terbitnya bintang Dala Ko (Pleiades) pada sekitar solstice Desember yang bertepatan dengan tenggelamnya bintang Wawi Toro (Antares) di rasi bintang Scorpio juga bertepatan dengan kedatangan angin barat yang mengawali musim hujan (wula rute) di wilayah Ngada. Konjungsi benda-benda langit di atas pada awal bulan Desember menjadi konteks waktu perayaan Reba Ngada.

Pembumian benda-benda langit tersebut nampak dalam penataan elemen-elemen kosmos tersebut ke dalam elemen-elemen budaya Ngada seperti arsitektur rumah adat, kampung adat, pakaian adat, ritus-ritus dan mitos-mitos mereka yang pada gilirannya membentuk ruang di mana perayaan Reba tersebut dilaksanakan setiap tahun. Pembumian tersebut nampak pula dalam enam wilayah geografis adat atau geomitologis perayaan Reba Ngada. Menurut Mircea Eliade penataan elemen-elemen kosmos sekitar pusat atau tiang poros tertentu, seperti Ngadhu, adalah proses kosmotisasi dan konsekrasi sesuai dengan kehendak Wujud Tertinggi. Dalam perayaan Reba, manusia dan kosmos semesta menyatu dalam irama yang sama. Di Atas Bumi Seperti Di Dalam Langit. 



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia