Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Buku Manggarai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Manggarai. Tampilkan semua postingan
Budaya dan Ragam Cerita Rakyat Manggarai Timur

Budaya dan Ragam Cerita Rakyat Manggarai Timur

Judul

:

Budaya dan Ragam Cerita Rakyat Manggarai Timur

Penulis

:

Ni Wayan Sumitri dkk

Penerbit

:

Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

290

ISBN

:

978-623-321-197-0

Harga

:

Rp.125.000

Status

:

Ada

 

Buku Budaya dan Ragam Cerita Rakyat Manggarai Timur memerikan secara ringkas kebermaknaan kebudayaan sebagai jendela dunia masyarakat Manggarai Timur, sebagaimana tercermin dalam tujuh puluh empat teks cerita rakyat yang terinventarisasi berdasarkan judul dan isi cerita dalam dua bahasa (bahasa lokal dan bahasa Indonesia). Cerita rakyat tersebut diwadahi dalam enam bahasa lokal yang hidup berdampingan di wilayah Kabupaten Manggarai Timur. Keenam bahasa lokal dimaksud adalah bahasa Manggarai, bahasa Manus, bahasa Kolor atau Mbaen, bahasa Rongga, bahasa Rajong, dan bahasa Kepo. Selain itu, cerita rakyat Manggarai Timur itu terklasifikasi menjadi tiga tipe yang meliputi mitos, legenda, dan dongeng.

Buku yang sarat dengan nilai kearifan lokal ini merupakan bagian dari penelitian Optimalisasi Potensi Tradisi Lisan untuk Menciptakan Sumber Belajar bagi Para Siswa di Manggarai Timur pada tahun ke-1 dari dua tahun pelaksanaan (2022 dan 2023) yang dibiayai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. Tim pelaksana penelitian adalah tim dosen Universitas PGRI Mahadewa Indonesia dengan komposisi Ni Wayan Sumitri sebagai ketua tim serta Ni Wayan Widiastuti dan Ni Wayan Sudarti sebagai anggota.

Kumpulan cerita yang tersaji dalam buku berisi empat bab ini penuh dengan muatan nilai etika moral yang diharapkan bisa mengisi kekosongan sumber belajar bagi para siswa di Manggarai Timur dalam upaya menunjang pembelajaran pendidikan karakter bangsa berbasis bahasa dan budaya lokal Manggarai Timur. Bersamaan dengan itu, diharapkan pula agar buku yang mendokumentasikan budaya dan ragam cerita rakyat Manggarai Timur ini juga bermanfaat bagi pihak di luar masyarakat Manggarai Timur untuk mengenal cerita rakyat Nusantara karena mekanisme penyajian teks cerita disertai dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.



Sejarah Kereta Api di Manggarai, Batavia 1913-1942

Sejarah Kereta Api di Manggarai, Batavia 1913-1942

Judul

:

Sejarah Kereta Api di Manggarai, Batavia 1913-1942

Penulis

:

Anang Ramadhan

Penerbit

:

Pustaka Indis

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

120

ISBN

:

978-623-5618-02-9

Harga

:

Rp.58.000

Status

:

Kosong

 

Kawasan stasiun kereta api di Manggarai dibangun oleh Staatsspoorwegen pada tahun 1913 menggantikan stasiun Boekit Doeri. Selain membangun stasiun, Staatsspoorwegen juga membangun bengkel kereta api di belakang stasiun Manggarai yaitu Hoofd Werksplaaten te Manggarai dan sekarang bernama Balai Yasa Manggarai. Stasiun Manggarai dibangun dengan tujuan meluaskan akses kereta api untuk masyarakat Batavia dan sekitarnya. Sebagai salah satu statsiun besar di Batavia, Stasiun Manggarai melayani perjalanan lokal dan perjalanan jauh ke wilayah Jawa seperti Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya, selain itu juga Stasiun Manggarai juga menjadi salah satu stasiun yang memiliki aktivitas pengiriman barang yang cukup besar. Jalur di lintas Stasiun Manggarai baru di elektrifikasi pada tahun 1928, sejak saat itu juga jumlah perjalanan kereta di wilayah Batavia juga bertambah. Terjadinya depresi ekonomi tahun 1930 aktivitas di Stasiun Manggarai juga berdampak, seperti pengurangan gaji, sampai pemecatan beberapa pekerja.

Aktifitas di Stasiun Manggarai baru mulai membaik pada tahun 1938, hal itu juga membuat keuangan Staatsspoorwegen juga mulai membaik. Kedatangan Jepang di Indonesia pada tahun 1942 membawa perubahan bagi semua sektor, Stasiun Manggarai menjadi salah satu stasiun utama yang dijadikan sebagai pangkalan kedatangan tentara Jepang dari pelabuhan, selain itu juga Hoofd Werksplaaten Te Manggarai diubah namanya menjadi seperti sekarang yaitu Balai Yasa Manggarai. 



Kamus Bahasa Manggarai-Indonesia Indonesia-Manggarai: Dokumen, Refleksi, dan Inspirasi Budaya

Kamus Bahasa Manggarai-Indonesia Indonesia-Manggarai: Dokumen, Refleksi, dan Inspirasi Budaya

Judul

:

Kamus Bahasa Manggarai-Indonesia Indonesia-Manggarai: Dokumen, Refleksi, dan Inspirasi Budaya

Penulis

:

Robert S. Ebat & Fransiskus Ebat

Penerbit

:

-

Tahun Cetak

:

2018

Halaman

:

646

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 125.000

Status

:

Ada


Meskipun jumlah penutur bahasa Manggarai masih di atas ambang batas kategori bahasa yang punah, namun bahasa Manggarai telah dan sedang mengalami proses kepunahan. Pada gilirannya proses kepunahan ini akan menyebabkan budaya dan nilai-nilai bijak Manggarai ikut hilang, sampai akhirnya Manggarai tanpa identitas. Banyak kata dalam Curup Manggarai (bahasa Manggarai yang hilang dari kehidupan sehari-hari, serta meningkatnya jumlah penutur yang tidak terlalu mengerti atau bisa menggunakan bahasa ini lagi. Bahasa ini adalah bukan sekedar bahasa para penutur masa lalu, tetapi bahasa ini adalah bahasa ibu yang penting manfaatnya bagi kebersamaan ‘lawa’ Manggarai. Dalam kaca mata iman, kita pun percaya, kalau Curup Manggarai ini adalah anugerah Allah (Mori Kraeng) untuk “ata manggarai” dan keturunannya. Oleh karena itu, buku ini hadir, tidak hanya sekedar Kamus Bahasa, tetapi merupakan bank kata, kumpulan contoh kalimat, petunjuk cara bertutur serta informasi budaya Manggarai. Disajikan juga mengenai latar belakang kehidupan penutur pendahulu, catatan budaya dan kebiasaan orang Manggarai, serta beberapa kata ungkapan atau kalimat kiasan (goet). Sangat dianjurkan untuk dipelajari oleh generasi muda dan anak-anak Manggarai, baik yang tinggal di Manggarai, maupun “ata kaeng peang” serta cocok dipakai oleh para menantu yang bukan orang Manggarai, serta orang-orang yang berkeinginan mempelajari budaya Manggarai. “Neka oke kuni agu kalo’d lawa”. 



Ruang Hidup Orang Manggarai: Gendang One, Lingko Pe’ang

Ruang Hidup Orang Manggarai: Gendang One, Lingko Pe’ang

Judul

:

Ruang Hidup Orang Manggarai: Gendang One, Lingko Pe’ang

Penulis

:

Fransiska Widyawati dkk.

Penerbit

:

Penerbit Unika Santu Paulus Ruteng

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

72

ISBN

:

-

Sumber

:

https://lppm.unikastpaulus.ac.id/

Download

:

Di Sini

 

Gendang one, lingko pe’ang adalah salah satu filosofi penting kehidupan orang Manggarai di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Manggarai di sini bukan menunjuk pada nama sebuah kabupaten, melainkan Manggarai dalam arti yang lebih luas, mencakup wilayah tiga kabupaten, Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur.

Secara literal, ungkapan gendang One, lingko pe’ang berarti 'rumah di dalam, kebun di luar'. Ungkapan ni adalah bagian filosofi dan kearifan lokal orang Manggarai. Ia menggambarkan ruang hidup yang mewakili keluasan ekologi kehidupan manusia. Rumah lebih luas dari sekadar sebagai bangunan fisik; kebun lebih dari hanya konsep tanah tempat manusia berkebun. Bagi orang Manggarai, rumah dan tanah memiliki makna sosial, religius, kultural dan politis (Lon, 2021; Lon dan Widyawati, 2020).

Selain itu, rumah dan kebun adalah kata yang menunjukkan suatu pasangan yang komplementer, saling melengkapi. Keduanya ditegaskan oleh kata “di dalam” dan “di luar”. Sifat komplementer menandakan karakter hidup orang Manggarai yang mempersatukan pelbagai aspek. Dalam budaya orang Manggarai, ruang hidup ini biasanya mencakup menjadi kampung (beo bate elor /natas bate labar), rumah adat (mbaru bate kaeng, mbaru gendang), altar persembahan/sesajian (compang bate takung), kebun (uma bate duat/lingko), dan sumber air (wae bate teku). 



Tawa daler ala Zabeth: Bandung dulu baru Jakarta ... senyum dulu baru dibaca ... nana reba imus rebok ... jantung enu mau "lempok" ...

Tawa daler ala Zabeth: Bandung dulu baru Jakarta ... senyum dulu baru dibaca ... nana reba imus rebok ... jantung enu mau "lempok" ...

Judul

:

Tawa daler ala Zabeth: Bandung dulu baru Jakarta ... senyum dulu baru dibaca ... nana reba imus rebok ... jantung enu mau "lempok" ...

Penulis

:

Elizabeth Tia Tanggu Semai

Penerbit

:

Nera Pustaka

Tahun Cetak

:

2013

Halaman

:

89

ISBN

:

978-602-174-173-3

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong


Gaya penulisan ini kuat sekali berbasis pada pola merangkum waktu, terlihat dari meluncurnya kekhasan tiap rentang waktu, dengan ciri khas melalui dialeg temporer… Enu Lina piawai memainkan emosi kraeng Jojek dengan membuka dua front sekaligus, membuka sekaligus menghadirkan yang lain sebagai saingannya Jojek. Tinggal kita menunggu balasan Jojek lagi pada episode selanjutnya. Teruskan enu Elsa! (Placidus S. Sanarry)

Mencermati beberapa “cermin” (cerita mini) ase momang Elizabeth Tia Tanggu, sungguh amat mengocok perut para pembaca. Bagaimana tidak, sekurang-kurangnya, seorang Elizabeth pasti memiliki potemsi “inner humor” hidup di dalam jiwanya, sehingga ia selalu terobsesi untuk menciptakan kisah, baik kisah-kasih, maupun kasih-kisah yang tentunya menyentuh batin pembaca (Usman D. Ganggang)

Surat diha Jojek ho’o kalau dibukukan, pasti menjadi the best seller… Jojek, terimakasih, suratmu membuatku tersenyum… (Ewaldus Wera)

Surat ini sangat menghibur, mengundang senyum dan tawa. Pemilihan nama tokoh, variasi kata turut membuat surat ini mengocok perut, selain tentu isinya (Elias Sumardi Dabur) 


Flori Buku Kehidupan

Flori Buku Kehidupan

Judul

:

Flori Buku Kehidupan

Editor

:

Yan Ladju, OFM & Mikhael Peruhe, OFM

Penerbit

:

JPIC-OFM Indonesia

Tahun Cetak

:

-

Halaman

:

-

ISBN

:

978-979-19963-0-3

Harga

:

Rp. 50.000

Status

:

Ada

 

Suatu hari, ketika sedang ngobrol sambil minum kopi pagi di ruang makan Biara St. Yosef Pagal, Pater Flori berkata begini, “Kalau pensiun, saya tidak mau terikat di paroki. Saya mau bebas… pergi ke kampung-kampung memikul injil.” Bertahun-tahun kemudian terutama setelah beliau almarhum, barulah saya menemukan ke mana arah ungkapan tersebut. Sejak saat itu, makna dari kata-kata yang agak ganjil itu pun pelan-pelan mulai terkuak, sedikit demi sedikit memberi arti.

Dalam konteks cara hidup dan cara bertutur Pater Flori, ungkapan “memikul Injil” kiranya bukan sebuah ungkapan kosong, melainkan sebuah wawasan dan konsep yang berkaitan erat dengan dua hal, yaitu pemahamannya tentang Injil sebagai Kabar Gembira dan praktik hidup sebagai Fransiskan yang dijalaninya hingga 26 Maret 2006, saat perjalanannya di bumi terhenti. (Mengenang Pater Flori, sang “Pemikul Injil”, Yan Ladjum OFM)

 


Uskup Wilhelmus van Bekkum & Déré Serani: Mengintegrasikan Unsur Religiositas Asli Masyarakat Manggarai ke dalam Liturgi

Uskup Wilhelmus van Bekkum & Déré Serani: Mengintegrasikan Unsur Religiositas Asli Masyarakat Manggarai ke dalam Liturgi

Judul

:

Uskup Wilhelmus van Bekkum & Déré Serani: Mengintegrasikan Unsur Religiositas Asli Masyarakat Manggarai ke dalam Liturgi

Penulis

:

Bonefasius Jehandut

Penerbit

:

Nera Pustaka

Tahun Cetak

:

2012

Halaman

:

136

ISBN

:

978-602-99678-6-7

Harga

:

Rp. 65.000

Status

:

Ada

 

Gereja semakin menjadi sadar bahwa pewartaannya harus membudaya dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat setempat. Gereja merasa sebagai suatu keharusan untuk meresapkan iman kristiani ke dalam hidup dan kebudayaan para bangsa. Lewat peresapan itu, iman kristiani harus sekaligus menerangi dan mengungkapkan nilai-nilai luhur yang ada dalam kebudayaan para bangsa, lengkap dengan segala warisan kulturalnya serta polesan psikologisnya. Gereja sungguh mendambakan suatu liturgi yang mampu menanggapi kebutuhan-kebutuhan para bangsa.

Gereja Katolik Manggarai sejak awal karya pewartaannya, terutama pada masa kepemimpinan Uskup Wilhelmus van Bekkum, telah berusaha mengakarkan diri pada kebudayaan setempat. Para pewarta tertahbis tak canggung terjun ke tengah masyarakat Manggarai belajar bahasa dan melihat hal-hal positif dari busaya, seni tari, seni musik dan hidup religius asli yang dihayati. Inkulturasi!

Buku ini mengutarakan riwayat misi di tanah Manggarai, sejak misi pertama hingga munculnya Déré Serani serta karya-karya Uskup Wilhelmus van Bekkum dalam menjalankan misi di Manggarai. Terutama kerja kerasnya dalam memasukkan kebudayaan Manggarai dalam liturgi. Alhasil, muncullah Déré Serani yang menjadi kumpulan lagu untuk liturgi dalam bahasa Manggarai. Upaya inkulturasi ini bahkan telah dilakukan sebelum konsili Vatikan II yang menandai keterbukaan Gereja Katolik bagi daerah-daerah misi dalam hal inkulturasi. 



Etos dan Spirit Hidup Orang Manggarai

Etos dan Spirit Hidup Orang Manggarai

Judul

:

Etos dan Spirit Hidup Orang Manggarai

Penulis

:

Yustina Ndung

Penerbit

:

Universitas Negeri Malang

Tahun Cetak

:

2019

Halaman

:

142

ISBN

:

978-602-470-095-9

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong

 

Buku Etos dan Spirit Hidup Orang Manggarai menggambarkan konstruksi sosial masyarakat adat Manggarai dalam relasinya dengan Mori Keraeng Sang Pencipta, sesama manusia dan lingkungan sekitarnya. Konstruksi yang memuat daur hidup manusia: lahir, hidup dan mati; relasi-korelasi, aksi-interaksi, tugas-peran dan tanggung jawab, etika dan moral disampaikan dalam bentuk go’et. Dengan demikian, Go’ét (poem) mengungkapkan nilai-nilai religus, nilai-nilai sosial, harapan/cita-cita luhur, pesan moral, ajakan dan peringatan yang disampaikan secara kausalitas.

Etos kebudayaan Manggarai menggambarkan bagaimana manusia Manggarai memaknai ‘ada’nya. Dalam bahasa Garnfinkel sebagai pencetus pendekatan etnometodologi, manusia (manusia Manggarai) adalah subjek yang memiliki kemampuan mengkonstruksi dunia sosialnya berdasarkan kekuatannya untuk melakukan interpretasi atas situasi-situasi dari tindakannya, jangkauan tujuan, dan motivasi-motivasi lainnya untuk memperoleh pemahaman intersubjektif dan mengkoordinasikan tindakan-tindakannya serta secara umum mengarahkan dunia sosialnya. 



Mengenal Manggarai di Nusa Tenggara Timur

Mengenal Manggarai di Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Mengenal Manggarai di Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Ferdinandus Moses

Penerbit

:

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tahun Cetak

:

2018

Halaman

:

54

ISBN

:

978-602-437-431-6

Sumber

:

https://budi.kemdikbud.go.id/

Download

:

Di Sini


Cerita ini berisi tentang Manggarai di Nusa Tenggara Timur, terutama tentang lanskap da perubahan sosial di dalamnya (asal usul serta tradisi-tradisi lisan di dalamnya). Semua itu harus diwariskan kepada generasi muda yang akan meneruskan pembangunan bangsa. Sebuah cerita rakyat perlahan-lahan akan sirna jika tidak dilestarikan. Untuk itu, penulis berharap keberadaan cerita ini dapat bermanfaat sebagai pelepas dahaga di kemarau panjang ini.



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia