Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Buku Lingkungan & Ekologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Lingkungan & Ekologi. Tampilkan semua postingan
Karakteristik Daerah Aliran Sungai di Nusa Tenggara Timur

Karakteristik Daerah Aliran Sungai di Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Karakteristik Daerah Aliran Sungai di Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Prof. Dr. Denik Sri Krisnayanti, S.T., M.T. & Prof. Philiphi De Rozari, S.Si, M.Si, M.Sc, Ph.D

Penerbit

:

Lakeisha

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

95

ISBN

:

978-623-420-880-

Harga

:

Rp. 70.000

Status

:

Ada

 

Kegiatan pengelolaan DAS sudah dilaksanakan pada berbagai belahan bumi lebih dari satu abad, namun masih terdapat kelemahan yang mendasar dalam hal penetapan kriteria dan indikator fungsi hidrologi DAS. Adanya harapan yang berlebihan dan kurang realistis tentang dampak pengelolaan DAS telah memunculkan kebijakan yang memerlukan investasi besar seperti ‘reboisasi’, namun hasilnya masih kurang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Buku tentang karakteristik  Daerah Aliran Sungai ini adalah bagian dari mata kuliah hidrologi. Dalam buku ini penulis menjabarkan beberapa pembahasan, seperti gambaran umum tentang Wilayah Nusa Tenggara Timur, Daerah Aliran Sungai (DAS) di Nusa Tenggara Timur, serta identifikasi kerentanan DAS. Penulis berharap buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya yang sedang mengikuti mata kuliah hidrologi.

 


Tradisi Memberi Makanan (Persembahan) Kepada Roh Leluhur (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Tradisi Memberi Makanan (Persembahan) Kepada Roh Leluhur (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Tradisi Memberi Makanan (Persembahan) Kepada Roh Leluhur (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Drs. I Wayan Rupa, M.Si ; I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos, M.Si & Yufiza, SS

Penerbit

:

Kepel Press & Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, Direktorat jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tahun Cetak

:

2015

Halaman

:

94

ISBN

:

978-602-356-042-4

Sumber

:

https://repositori.kemdikbud.go.id

Download

:

Di Sini

Ritual “Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata” merupakan salah satu ritual yang ada pada masyarakat Ende-Lio. Pati K sebagai suatu ritual persembahan kepada para arwah yang telah meninggal. Pada masyarakat Ende-Lio percaya bahwa arwah nenek moyang atau leluhur berada di puncak Kelimutu dan sebagian di sekitar rumah, selalu melindungi keturunannya tatkala dalam bahaya, dan sebaliknya bila para arwah ini diabaikan dan tidak pernah melakukan ritual terhadap roh-roh leluhur akan berakibat buruk terhadap keturunannya yang tinggal dan hidup di dunia. Mitologi masyarakat Ende-Lio menyebutkan bahwa para arwah akan pergi dan tinggal di danau kawah yang terdapat di puncak gunung Kelimutu, tinggal di antara  tiga danau kawah yang terdapat di kawasan Kelimutu. Ketiga danau kawah itu memiliki karakter dan warna yang sering berubah-ubah pada saat-saat tertentu. Masyarakat percaya bahwa perubahan warna terkait dengan peristiwa alam maupun sesuatu yang akan terjadi dalam kehidupan manusia.

Sebagai cara memberikan penghormatan dan memohon perlindungan kepada para arwah leluhur maka dilaksanakan ritual pati ka yakni ritual persembahan makanan, di mulai dari pati ka di kuburan sekitar perkampungan. Selanjutnya pati ka yang lebih besar dilaksanakan di puncak kawasan Kelimutu, yang dihadiri oleh seluruh komunitas di sepanjang penyangga Taman Nasional kelimutu (TNK). Ritual pati ka yang diselenggarkan secara bersama-sama oleh seluruh komunitas budaya yang ada di sepanjang penyangga TNK inilah yang sering dinamakan sebagai ritual “Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata” atau ritual persembahan memberi makanan terhadap leluhur.



Malapetaka Nasional di Maumere

Malapetaka Nasional di Maumere

Majalah

:

TEMPO

Judul

:

Malapetaka Nasional di Maumere

No.

:

43 Tahun XXII

Tanggal Terbit

:

26 Desember 1992

ISSN

:

0226-4273

Halaman

:

108

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada

 

Setelah gempa dahsyat disusul badai tsunami menerjang pulau itu Flores, barangkali lebih tepat disebut pulau yang sedang menderita. Empat kabupaten di sana, Sikka, Ngada, Ende dan Flores Timur, seakan berhenti berdetak.

Menurut catatan posko penanggulangan bencana di daerah itu, sampai akhir pekan lalu. Korban yang tewas sudah lebih dari 2.400 orang. Gempa dan gelombang tsunami itu mengakibatkan sekitar 18 ribu rumah hancur, 113 sekolah porak-poranda, 211 kantor rusak berat, 120 tempat ibadah -sebagian besar diantaranya gereja- tak lagi bisa dipakai, dan lima jalan utama lumpuh. Ini bukan lagi kepalang tanggung. Menurut taksiran sementara kerugian mencapai Rp. 200 milyar. Karena itu, ada yang bilang, kondisi kabupaten ini sekarang mundur ke Pelita pertama. Inilah gempa bumi dengan korban terbesar sepanjang serah republik ini. 



Mengenal Bioekologi Locusta Migratoria Manilensis Belalang Kembara dan Pengendaliannya Minor dan Serious Pest Species, The Temporary Devastator Species

Mengenal Bioekologi Locusta Migratoria Manilensis Belalang Kembara dan Pengendaliannya Minor dan Serious Pest Species, The Temporary Devastator Species

Judul

:

Mengenal Bioekologi Locusta Migratoria Manilensis Belalang Kembara dan Pengendaliannya Minor dan Serious Pest Species, The Temporary Devastator Species

Penulis

:

Paulus Taek

Penerbit

:

CV. Literasi Nusantara Abadi

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

220

ISBN

:

978-623-495-094-6

Harga

:

Rp. 97.000

Status

:

Kosong

Hasil karya dalam bentuk buku ini merupakan buku rujukan bagi semua kalangan yang konsen dengan serangga khususnya yang terkategorikan sebagai pest baik itu minor species pest, possibly beneficial dan beneficial pest species, innocous pest species maupun serious pest species. Serangga yang dimaksudkan dalam karya ini adalah grasshopper yang tercakup di dalam Arthropoda yang bisa mengalami transformasi menjadi Locusta antara lain Locusta migratoria manilensis, Meyen Linnaeus yang terkategorikan sebagai serious pest species yang sudah pernah menimbulkan kerugian banyak bagi masyarakat dan Pemerintah  Daerah Sumba dan bahkan Pemerintah Pusat semenjak tahun 1999-2006 dan 2019-September 2022 pun masih tetap menjadi hama devastator yang menyedot begitu banyak perhatian dari masyarakat dan Pemerintah baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat dan bahkan badan Dunia, FAO. Karya ini selain memuat informasi tentang grasshopper dan lokusta juga memuat gambaran tentang 4 pikiran yang mesti diketahui yakni: (1) strategi pengendalian hama lokusta secara natural oleh regulator alamiah (misalnya predtor, parasitoid), (2) alasan-alasan teoritik hipotetik tentang ketidakmampuan regulator alamiah menjalankan fungsinya di alam bebas, (3) strategi pengendalian secara teoritis yang biasanya dan yang mestinya diaplikasikan namun tidak bisa diterapkan karena berbagai konsiderans, dan (4) strategi pengendalian alternatif yang juga dilaksanakan entah itu sebagai short-term strategy (strategi jangka pendek), middle-term strategy (strategi jangka menengah) ataupun long-term strategy (strategi jangka panjang). 



Ekologi Belalang Kembara Lokusta di Nusa Tenggara

Ekologi Belalang Kembara Lokusta di Nusa Tenggara

Judul

:

Ekologi Belalang Kembara Lokusta di Nusa Tenggara

Penulis

:

Dr. Nikolas Nik, S.P., M.Si.

Penerbit

:

Bintang Pustaka Madani

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

155

ISBN

:

978-623-6372-17-3

Harga

:

Rp. 112.000

Status

:

Kosong

 

Belalang kembara merupakan salah satu hama yang sangat mengancam dan merusak tanaman di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hama  ini menyebar di beberapa kabupaten, antara lain Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Belu yang berada di Pulau Timor, serta Sumba Timur di Pulau Sumba. Kedua pulau ini jaraknya sangat jauh, terpisah sekitar 877,6 km oleh laut serta memiliki topografi yang berbeda-beda. Spesies polifag ini (Hill, 2008; Chapman et al., 201 5) merupakan hama yang merusak sejumlah tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi tinggi di wilayah tersebut.

Belalang kembara yang ada di Kabupaten TTU, Belu, dan Sumba Timur pada umumnya merusak tanaman jagung dan padi dalam skala yang besar sehingga menimbulkan kerugian ekonomis yang sangat tinggi. Demikian pula, Brader et al., (2006) menyatakan bahwa belalang kembara Schistocerca gregaria berpotensi menjadi hama serangga paling merusak di dunia pada tahun 2003—2004, yang menyebabkan kerugian panen sebesar 80—1 00% dan basil pertanian. Menurut laporan dan Provinsi NTT, ledakan belalang kembara terjadi pada tahun 2007 dan awal 2008, yang menyebabkan hilangnya bahan makanan, khususnya jagung dan padi, serta beberapa jenis tanaman lainnya.

 


Di Atas Bumi Seperti di Dalam Langit: Mempertimbangkan Astronomi Budaya Reba Ngada

Di Atas Bumi Seperti di Dalam Langit: Mempertimbangkan Astronomi Budaya Reba Ngada

Judul

:

Di Atas Bumi Seperti di Dalam Langit: Mempertimbangkan Astronomi Budaya Reba Ngada

Penulis

:

Josef San Dou

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

240

ISBN

:

978-623-6724-30-9

Harga

:

Rp. 125.000

Status

:

Ada

 

Ritus perayaan Reba masyarakat Ngada tidak berlangsung dalam suatu kevakuman, tetapi dalam suatu kerangka waktu, ruang, kosmos dan arsitektur tertentu. Buku ini mencoba melihat konteks waktu, ruang, kosmos dan arsitektur tersebut – khususnya dari perspektif astronomi budaya Ngada – bukan saja menyangkut kaitan antara pelaksanaan ritus perayaan Reba dengan perubahan bentuk dan letak benda-benda langit, tetapi juga proses pembumian kosmos dan benda-benda langit tersebut ke dalam elemen-elemen budaya Ngada yang pada gilirannya menjadi ruang dan waktu perayaan Reba tersebut seperti arsitektur rumah adat, kampung adat, pakaian adat, ritus-ritus dan mitos-mitos mereka.

Berupaya menggali kearifan dan kebijaksanaan lokal untuk mengkontribusi terhadap gerakan global pelestarian alam, buku ini mencoba melihat bagaimana pengamatan yang cermat atas perubahan bentuk dan letak benda-benda langit menjadi referensi bagi penyelenggaraan dan perayaan kehidupan bersama, termasuk perayaan Reba. Secara khusus buku ini mengedepankan beberapa kajian berikut: Pertama, perayaan Reba sangat erat berkaitan dengan fase-fase bulan, khususnya fase-fase bulan dalam kurun waktu yang disebut Repa yakni dari bulan baru (wula mata/wula mese/wula seli) di mana bulan tidak kelihatan selama dua atau tiga malam, sampai ke bulan purnama (wula gili, wula gili moli, wula pepe li’e, wula dara gesa); kedua, seperti dikemukakan oleh Paul Arndt, SVD, perayaan Reba Ngada berkaitan dengan kurun waktu “ketika matahari berada dalam posisi paling selatan dalam bulan Desember sampai saat matahari berada pada posisi paling tinggi dalam bulan Maret”; dan ketiga, perayaan Reba Ngada berkaitan dengan kembalinya atau terbitnya bintang Dala Ko (Pleiades) pada sekitar solstice Desember yang bertepatan dengan tenggelamnya bintang Wawi Toro (Antares) di rasi bintang Scorpio juga bertepatan dengan kedatangan angin barat yang mengawali musim hujan (wula rute) di wilayah Ngada. Konjungsi benda-benda langit di atas pada awal bulan Desember menjadi konteks waktu perayaan Reba Ngada.

Pembumian benda-benda langit tersebut nampak dalam penataan elemen-elemen kosmos tersebut ke dalam elemen-elemen budaya Ngada seperti arsitektur rumah adat, kampung adat, pakaian adat, ritus-ritus dan mitos-mitos mereka yang pada gilirannya membentuk ruang di mana perayaan Reba tersebut dilaksanakan setiap tahun. Pembumian tersebut nampak pula dalam enam wilayah geografis adat atau geomitologis perayaan Reba Ngada. Menurut Mircea Eliade penataan elemen-elemen kosmos sekitar pusat atau tiang poros tertentu, seperti Ngadhu, adalah proses kosmotisasi dan konsekrasi sesuai dengan kehendak Wujud Tertinggi. Dalam perayaan Reba, manusia dan kosmos semesta menyatu dalam irama yang sama. Di Atas Bumi Seperti Di Dalam Langit. 



Pengetahuan Lokal dalam Keberlanjutan Pengelolaan Air

Pengetahuan Lokal dalam Keberlanjutan Pengelolaan Air

Judul

:

Pengetahuan Lokal dalam Keberlanjutan Pengelolaan Air

Penulis

:

Paulus Adrianus K.L. Ratumakin dkk.

Penerbit

:

Perkumpulan PIKUL

Tahun Cetak

:

2016

Halaman

:

112

ISBN

:

978-602-74097-0-5

Sumber

:

https://pikul.id/

Download

:

Di Sini

 

Lima dekade yang lalu, Garrett Hardin, seorang ekologis Amerika Serikat, menulis tentang tragedy of the commons. Hardin berpendapat bahwa sumber daya alam yang dimanfaatkan secara kolektif dan tidak jelas kepemilikannya tidak akan dijaga dan dikelola baik oleh siapapun. Setiap orang akan cenderung mengeksploitasi sampai habis. Maka terjadilah tragedi. Menurut Hardin, hanya satu cara mencegah tragedi tersebut: memperjelas hak atas sumber-sumber, termasuk kepemilikan, agar ada yang ‘bertanggungjawab’. Lebih lanjut, hanya dua pihak yang bisa bertanggungjawab: negara atau swasta.

Melalui buku ini para peneliti menyodorkan cara lain pengelolaan air yang bisa dilakukan selain semata oleh pemerintah dan swasta. Pengelolaan yang kolektif yang mengutamakan kepentingan bersama, termasuk dalam menjaga lingkungan. Dengan mengemukakan pengetahuan lokal, buku ini ingin menekankan bahwa pengelolaan air secara kolektif ini, walau berakar dari budaya setempat, tetapi tidak parokal. Pengetahuan lokal tetap terbuka untuk pengetahuan dan teknologi baru.



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia