Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Buku Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Misteri. Tampilkan semua postingan
Tradisi Memberi Makanan (Persembahan) Kepada Roh Leluhur (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Tradisi Memberi Makanan (Persembahan) Kepada Roh Leluhur (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Tradisi Memberi Makanan (Persembahan) Kepada Roh Leluhur (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Drs. I Wayan Rupa, M.Si ; I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos, M.Si & Yufiza, SS

Penerbit

:

Kepel Press & Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, Direktorat jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tahun Cetak

:

2015

Halaman

:

94

ISBN

:

978-602-356-042-4

Sumber

:

https://repositori.kemdikbud.go.id

Download

:

Di Sini

Ritual “Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata” merupakan salah satu ritual yang ada pada masyarakat Ende-Lio. Pati K sebagai suatu ritual persembahan kepada para arwah yang telah meninggal. Pada masyarakat Ende-Lio percaya bahwa arwah nenek moyang atau leluhur berada di puncak Kelimutu dan sebagian di sekitar rumah, selalu melindungi keturunannya tatkala dalam bahaya, dan sebaliknya bila para arwah ini diabaikan dan tidak pernah melakukan ritual terhadap roh-roh leluhur akan berakibat buruk terhadap keturunannya yang tinggal dan hidup di dunia. Mitologi masyarakat Ende-Lio menyebutkan bahwa para arwah akan pergi dan tinggal di danau kawah yang terdapat di puncak gunung Kelimutu, tinggal di antara  tiga danau kawah yang terdapat di kawasan Kelimutu. Ketiga danau kawah itu memiliki karakter dan warna yang sering berubah-ubah pada saat-saat tertentu. Masyarakat percaya bahwa perubahan warna terkait dengan peristiwa alam maupun sesuatu yang akan terjadi dalam kehidupan manusia.

Sebagai cara memberikan penghormatan dan memohon perlindungan kepada para arwah leluhur maka dilaksanakan ritual pati ka yakni ritual persembahan makanan, di mulai dari pati ka di kuburan sekitar perkampungan. Selanjutnya pati ka yang lebih besar dilaksanakan di puncak kawasan Kelimutu, yang dihadiri oleh seluruh komunitas di sepanjang penyangga Taman Nasional kelimutu (TNK). Ritual pati ka yang diselenggarkan secara bersama-sama oleh seluruh komunitas budaya yang ada di sepanjang penyangga TNK inilah yang sering dinamakan sebagai ritual “Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata” atau ritual persembahan memberi makanan terhadap leluhur.



Sejarah Kereta Api di Manggarai, Batavia 1913-1942

Sejarah Kereta Api di Manggarai, Batavia 1913-1942

Judul

:

Sejarah Kereta Api di Manggarai, Batavia 1913-1942

Penulis

:

Anang Ramadhan

Penerbit

:

Pustaka Indis

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

120

ISBN

:

978-623-5618-02-9

Harga

:

Rp.58.000

Status

:

Kosong

 

Kawasan stasiun kereta api di Manggarai dibangun oleh Staatsspoorwegen pada tahun 1913 menggantikan stasiun Boekit Doeri. Selain membangun stasiun, Staatsspoorwegen juga membangun bengkel kereta api di belakang stasiun Manggarai yaitu Hoofd Werksplaaten te Manggarai dan sekarang bernama Balai Yasa Manggarai. Stasiun Manggarai dibangun dengan tujuan meluaskan akses kereta api untuk masyarakat Batavia dan sekitarnya. Sebagai salah satu statsiun besar di Batavia, Stasiun Manggarai melayani perjalanan lokal dan perjalanan jauh ke wilayah Jawa seperti Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya, selain itu juga Stasiun Manggarai juga menjadi salah satu stasiun yang memiliki aktivitas pengiriman barang yang cukup besar. Jalur di lintas Stasiun Manggarai baru di elektrifikasi pada tahun 1928, sejak saat itu juga jumlah perjalanan kereta di wilayah Batavia juga bertambah. Terjadinya depresi ekonomi tahun 1930 aktivitas di Stasiun Manggarai juga berdampak, seperti pengurangan gaji, sampai pemecatan beberapa pekerja.

Aktifitas di Stasiun Manggarai baru mulai membaik pada tahun 1938, hal itu juga membuat keuangan Staatsspoorwegen juga mulai membaik. Kedatangan Jepang di Indonesia pada tahun 1942 membawa perubahan bagi semua sektor, Stasiun Manggarai menjadi salah satu stasiun utama yang dijadikan sebagai pangkalan kedatangan tentara Jepang dari pelabuhan, selain itu juga Hoofd Werksplaaten Te Manggarai diubah namanya menjadi seperti sekarang yaitu Balai Yasa Manggarai. 



Emilie Jawa 1904

Emilie Jawa 1904

Judul

:

Emilie Jawa 1904

Penulis

:

Catherine van Moppés

Penerbit

:

Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun Cetak

:

2010

Halaman

:

481

ISBN

:

978-979-91-0233-1

Harga

:

Rp. 65.000

Status

:

Ada

 

Emilie lahir di kota kecil Langon pada ujung abad ke-19. Dia dibesarkan ayahnya, seorang saudagar kaya, berhaluan politik Republikan-Radikal, yang memihak apa dipandangnya sebagai universalisme. Sang ayah adalah pengagum Emile Zola, yang memperjuangkan penghapusan diskriminasi anti Yahudi. Namun, mencerminkan semangat zamannya, dia meyakini bahwa, melalui kolonialisme, humanisme akan terwujud di belahan negeri manapun. Paradoks zaman itu menjadi sumber pertanyaan yang membayang-bayangi Emilie sepanjang pengalamannya di Hindia Belanda, ketika mendampingi suaminya, Lucien, yang ditugaskan sebagai asisten keamanan pada pemerintah kolonial di Batavia.

Ketika Emile mulai merasakan bahwa cara Lucien menyikapi tanah jajahan semakin jauh dari pemahaman dirinya, dia menjadikan seksualitas sarana pemberontakan politiknya. Perlahan tanah jajahan bukan lagi tanah janjian sebagaimana pada masa remajanya, melainkan tanah perjuangan bagi humanisme yang sesungguhnya, meski untuk itu ia harus rela mengorbankan cinta utuh yang ditemuinya di Batavia. Maka Anendo mewakili sisa impian masa mudanya tentang tanah janjian eksotis, dan sekaligus terbitnya kesadaran baru yang bersifat politik.

Terjepit antara kedua kecenderungan itu, Lucien memilih status-quo: apapun humanisme acuan masa mudanya, dia semakin berpihak pada sistem kolonial, hingga menjadi semakin reaksioner dan represif. Emilie mengalami evolusi yang sebaliknya. Selaras dengan kian meluas hubungannya dengan masyarakat umum, dia kian menyadari betapa hampa selubung humanis-universalis yang melekat pada ideologi kolonial. Semakin Emile sadar atas manipulasi ideologis itu, dan semakin dirinya menyadari Lucien buta terhadap keadaan sesungguhnya, semakin pula ia merasa tak salah mengkhianatinya. Oleh karena itu pengkhianatan seksual Emilie, dengan Anendo yang pribumi itu, sejatinya berarti tercapainya puncak kesadaran politiknya.

Emilie bertemu secara kebetulan dengan aktivis pelarian dari Tiongkok itu. Dia segera menyadari bahwa idealisme mereka sejatinya jauh lebih radikal daripada “humanisme” burjuis yang diyakininya. Keterpikatan dengan gagasan mereka memaksanya melanggar aneka tabu sosial: tabu yang melarangnya untuk bergaul secara leluasa dengan orang-orang di luar kalangan Eropa. Setiap pelanggaran Emilie disertai oleh rasa pembebasan baru dan sekaligus peningkatan kesadaran politiknya. Meskipun masih kerap dipandang “kulit putih”, Emilie semakin nekat hingga pada akhirnya melakukan pelanggaran yang terberat: alias pengkhianatan atas pernikahannya, yang dilakukannya dengan Anendo, seorang “Inlander” dari sebuah pulau nun jauh di Timur sana, pulau Solor. 



Indonesia Revival Focus on Timor

Indonesia Revival Focus on Timor

Judul

:

Indonesia Revival Focus on Timor

Penulis

:

George W. Peters

Penerbit

:

The Zondervan Corporation Grand Rapids, Michigan

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

1973

Halaman

:

120

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 110.000

Status

:

Ada


An In-depth study of Revival in Indonesia. A real revival has been taking place in Timor, Indonesia! Here is the truth about what has happened-separating fact from fabrication, accuracy from exaggeration. Dr. George W. Peters, professor of World Missions at Dallas Theological Seminary and a recognized authority in his field, has completed one of the most exhaustive studies ever made of spiritual revival in a foreign setting. He has sought for facts – in the framework of the Bible, the Christian experiences and the prevailing culture. In his inquiry he incorporates the tools of history, religion, psychology, sociology and anthropology – which sheds light on the narrative, supernatural phenomena, and abiding fruit of God’s work among the people of Indonesia. Truly a remarkable account of Indonesia’s revival! 



Si Buta dari Gua Hantu: Tragedi Larantuka Jilid 1-10

Si Buta dari Gua Hantu: Tragedi Larantuka Jilid 1-10

Judul

:

Si Buta dari Gua Hantu: Tragedi Larantuka Jilid 1-10

Penulis

:

Ganes TH

Penerbit

:

SBINMAS KODAK METRO

Tahun Cetak

:

1979-1980

Halaman

:

480

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 350.000

Status

:

Ada

 

Larantuka adalah sebuah desa di lereng gunung, di tepi sebuah teluk yang permai bagaikan sebutir mutiara di ujung timur Pulau Flores. Berabad-abad lamanya ia tetap indah dan cantik. Kaya raya dengan hasil bumi serta lautnya.

Sampai pada suatu saat. Para pengusaha asing mulai tergiur oleh alam floranya. Hutan-hutan subur dibabatnya hingga yang tertinggal hanya tanah-tanah kering dan gundul. Malapetakapun segera melanda desa ini. Gerombolan babi hutan turun mencari sumber air dan menyerbu sisa-sisa ladang yang ada. Menimbulkan kesengsaraan bagi penduduknya.

Tuan Dumas, seorang dokter kulit putih yang sudah lama bermukim di desa tersebut. Dengan dibantu para penduduk serta pemburu-pemburu asing, mengerahkan ratusan ekor anjing, berhasil menumpas hama satwa liar itu. Namun musibah lain muncul, ratusan ekor anjing telah berkembang biak tanpa terkendali. Sehingga seluruh desa seakan-akan sudah dikuasai oleh hewan ini. Dan berjangkit pulalah wabah penyakit anjing gila yang menyebar dengan ganasnya, menimbulkan kepanikan kepada segenap penduduknya korban-korban pun berjatuhan.

Si Buta dari Gua Hantu, episode 10 ini merupakan logi ke tiga/terakhir dari trilogi: Perjalanan ke Neraka, Kabut Tinombala dan Tragedi Larantuka. Kisah Tragedi Larantuka, dimulai dari akhir kisah Tinombala. ketika Barda Mandrawata atau Si Buta dari Goa Hantu, memiliki kesepakatan untuk mengantarkan Meinar seorang janda beserta anaknya bernama Tara untuk mengunjungi orang tuanya yang sudah lama ditinggalkan di Larantuka Flores.

Kejadian nyata berupa banjir bandang di Larantuka yang terjadi 27 Februari 1979, menjadi inspirasi penulis dalam menuliskan kisah ini. Namun yang menarik adalah kisah lainnya dalam komik ini yaitu tentang wabah anjing rabies, yang ditahun penulisan komik ini tidak ada atau sekedar fiksi namun justru menjadi kenyataan kemudian di tahun 1997! 



Philipus Mengaku “Saya yang bersalah hukumlah saya. Jangan ganggu warga Flores.”

Philipus Mengaku “Saya yang bersalah hukumlah saya. Jangan ganggu warga Flores.”

Majalah

:

GATRA

Judul

:

Philipus Mengaku “Saya yang bersalah hukumlah saya. Jangan ganggu warga Flores.”

No.

:

49 Tahun I

Tanggal Terbit

:

21 Oktober 1995

ISSN

:

0853-1706

Halaman

:

112

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada

 

Pembantaian keluarga Rohadi di Bambu Apus, Jakarta Timur, melibatkan bocah ingusan. Polisi terperangah. Tiga bocah itu, sebut saja namanya Albo, Clay dan Lambo. Berusia antara 13 dan 15 tahun, mereka resmi dinyatakan oleh polisi jadi tersangka pembunuhan keluarga Rohadi. Otak pelakunya adalah Philipus Kia Ledjab alias Om Kia, tidak lain ayah Albo sekaligus paman Clay dan Lambo.

Philipus lahir di Watuwawar, Kecamatan Atadei, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. 46 tahun silam. Pada usia 15 tahun, Philipus yang mengenyam pendidikan kelas III SD ini merantau dan menetap di Tanjungpriok, Jakarta Utara. Ia menyunting Suparmi, gadis Jawa, yang memberinya empat anak. 



Karunia Penyembuhan Damianus Wera

Karunia Penyembuhan Damianus Wera

Judul

:

Karunia Penyembuhan Damianus Wera

Penulis

:

Yosef Tor Tulis

Penerbit

:

Jetpress

Tahun Cetak

:

2007

Halaman

:

152

ISBN

:

978-979-15583-1-0

Harga

:

Rp. 65.000

Status

:

Ada

 

Sosok Damianus Wera bukanlah ‘dokter’ asing dalam dunia paranormal Indonesia. Cerita tentang pengobatan (operasi) secara ajaib Damianus Wera sudah menyebar ke seantero tanah air, bahkan hingga mancanegara. Betapa tidak, sudah lebih dari 100 ribu orang datang dan berobat kepadanya sejak tahun 1986. Mereka datang dari berbagai lapisan sosial ekonomi. Mulai dari kaum papa, artis, dokter, jenderal hingga presiden dan mantan presiden.

Ia juga menjadi ‘dokter terbang’ ke berbagai negara. Ia pernah mengobati pasien di Malaysia, Hongkong, AS, Australia, Belgia, Taiwan, dan Filipina. Berbagai jenis penyakit medis dan non medis telah disembuhkannya seperti tumor, jantung koroner, batu ginjal, asma, TBC, mata rabun, lumpuh karena stroke atau disantet, mandul, amandel, dan masih banyak lagi.

Buku ini adalah sebuah refleksi bagaimana kebesaran Tuhan dinyatakan lewat hamba-hambaNya. Dami Wera berkarya atas nama Tuhan. Ia menyebut ayahnya Ware Ratu lah yang mewarisi ilmu penyebuhan-nya yang ajaib. Dami juga mengaku selalu menghadirkan Tuhan setiap kali ia hendak menyembuhkan pasiennya. Bahkan, ia selalu mengajak pasien berdoa bersamanya sebelum melakukan operasi.

Berkali-kali Damianus Wera menegaskan bahwa bukan dialah ‘doketr’ sesungguhnya, tapi Tuhan sendirilah yang menyembuhkan orang-orang yang adatang kepadanya. Tuhan hanya memakai tangannya untuk menjamah pasien. 



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia